Memburu bajin**n

Dalam sebuah perjalanan ke Nusa Tenggara Timur pada akhir tahun 2021, tepatnya di Atambua. Atambua sendiri merupakan satu kabupaten yang terletak di perbatasan wilayah Indonesia dengan negara Timor Leste. Sebagai ibukota kabupaten, kota Atambua menjadi kota paling sibuk di kabupaten Belu dibandingkan dengan kota-kota lain di wilayah perbatasan di pulau Timor tersebut.

 

Interaksi dengan masyarakat lokal menjadi keseharian selama tinggal di Timor, seperti acara adat, tradisi dan berkumpul bersama masyarakat. Bernyanyi dan menari menjadi hal yang seru untuk melupakan sejenak musim hujan yang kadang masih menjadi misteri. Cuaca yang panas dan terik adalah teman sehari-hari.

 

Memang tidak terlalu banyak kosa kata yang bisa saya ingat dalam percakapan. Kendala utamanya adalah banyaknya penyingkatan kata dan pengucapan istilah yang cepat dalam sebuah percakapan, selain memang lidah Jawa saya tidak bisa belajar cepat untuk mengucapkan kata-kata dalam aksen Timor, selalu medok.

 

Masyarakat Timor sangat senang bercerita dan mengekpresikan sebuah dialog, itu mungkin karena pengaruh tradisi lisan yang kuat dalam kultur masyarakat Timor. Ketika ada hal lucu atau mengundang kagum, mereka tak segan tertawa terbahak dan menimpali kata-kata kawan mereka dengan ekspresi. Apalagi ketika sudah menenggak sopi, satu minuman keras tradisional yang menjadi sajian wajib saat berkumpul seusai santap makan bersama, semuanya menjadi cair dalam berkomunikasi.

 

Pernah dalam suatu acara ada salah satu warga yang menceritakan tentang anak mereka yang sukses mencapai gelar sarjana, secara spontan warga yang lainnya menanggapi dengan ucapan,”Terlalu bajingan anak ko… mantap e e…”. Respon saya ketika mendengan kata tersebut agak kaget juga. Sebagai orang Jawa yang bisa dikatakan jarang sekali mengucapkan kata tersebut dipakai dalam percakapan sehari-hari karena makna kata tersebut yang cenderung negatif dan kurang sopan.

 

Kata bajingan sendiri bagi masyarakat Jawa konon berasal dari penyebutan untuk seorang sopir dokar, sebuah profesi yang kemudian mengalami perubahan makna menjadi memiliki makna negatif (peyorasi). Sementara itu, dalam bahasa percakapan masyarakat Atambua “bajingan” memiliki arti ganteng atau hebat. Apakah kata tersebut serapan dari bahasa lain, tidak ada informasi yang jelas mengingat serap menyerap kosa kata sangat biasa terjadi selain memang orang Jawa juga banyak tinggal di pulau Timor.

Pernah suatu waktu dalam perjalanan dari Malaka ke Atambua melihat satu mobil angkot memasang stiker besar sekali bertuliskan “bajingan mempesona”. Setelah cukup lama mengikuti dan berusaha memotret mobil angkot tersebut, akhirnya berhasil ketika melintasi jalan yang cukup rusak karena terkikis air hujan aspalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *