Kopi paste daerah

Industri pariwisata hingga sekarang masih menjadi primadona bagi banyak daerah di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri dinamika ekonomi yang terjadi di daerah wisata popular cukup tinggi seakan menjadi gula-gula, salah satunya Bali. Tak ayal ada ungkapan bahwa Bali dari wisatanya saja mampu untuk mandiri. Aktivitas berwisata sendiri menjadi kian popular dengan adanya media sosial. Melalui platform digital yang menyediakan halaman untuk mengunggah foto-foto mereka menjadi alasan tersendiri untuk menunjukkan eksistensinya. Karena selfi maka aku ada, mengutip plesetan ungkapan dari Rene Descartes yang popular “Cogito ergo sum” yang memiliki arti aku berpikir maka aku ada.


   Majalah pariwisata yang terbit di Amerika Serikat Travel+Leisure belum lama ini merilis daftar 5 pulau terbaik di kawasan Asia tahun 2022. Berdasarkan survei dilakukan kepada pembaca mereka secara online selama periode 25 Oktober 2021-28 Februari 2022. Responden diminta memberi penilaian terhadap sejumlah pulau destinasi wisata utama dunia, mulai dari segi kualitas wisata alam atau pantai, atraksi wisata, restoran atau makanan, keramahan penduduk, serta nilai secara keseluruhan. Dari hasil survey tersebut, peringkat pertama pulau terbaik di Asia diraih oleh Maladewa atau Maldives dengan skor total 94,44 dari 100 poin. Sementara ituBali menempati peringkat kedua pulau terbaik di Asia dengan perolehan skor 92,51 poin.


    Keberhasilan suatu daerah dalam mengelola sektor wisatanya seringkali membuat latah daerah lain yang juga memiliki fokus menjadikan wilayahnya sebagai destinasi wisata memunculkan idiom seperti Jogja rasa Bali. Hal tersebut bisa jadi karena menganggap wilayah lain superior dalam wisatanya karena sesuatu hal, misalnya wisata alamnya sehingga beramai-ramai menduplikasi apa yang dianggap memiliki daya tarik kuat di daerah lain. Masih segar dalam ingatan ketika hampir di setiap objek wisata dibuat bangunan “love” ataupun tulisan besar nama tempat tersebut, atau bola-bola marmer yang ada di pinggir jalanan di beberapa kota besar.


Saya teringat beberapa tahun yang lalu pernah mewawancarai Pak Sumardiyanto, seorang dosen arsitektur Unika Atmajaya Yogyakarta mengenai pembangunan ataupun pengembangan suatu tempat wisata. Saat itu beliau mengatakan bahwa orang sering lupa dari makna apa itu membangun. Terkadang bangunan yang dibuat dengan tujuan untuk menambah keindahan justru akan merusak makna dari tempat wisata tersebut jika yang dibangun tidak sesuai atau sekedar dipaksakan karena alasan pembangunan semata.


   Yogyakarta sendiri hingga sekarang masih menjadi tujuan wisata favorit bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Keberhasilan memadukan wisata tradisi dan kota tua bersejarah dipadukan dengan wisata alam pantai yang cukup menjual, meskipun masih banyak keluhan yang sering diungkapkan oleh wisatawan berkaitan dengan parkir yang mahal ataupun harga makanan yang tidak wajar.


   Ada hal yang seringkali terlupakan adalah membangun sumber daya manusianya yang menjadi aktor utama kesuksesan sebuah usaha. Keluhan yang acapkali terdengar adalah faktor kebersihan ataupun pengelolaan tempat wisata yang kurang profesional. Meskipun budaya hidup bersih dan menjaga kebersihan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan karena memang mengubah masalah mental tidaklah gampang. Kebersihan seharusnya menjadi tanggungjawab bersama sehingga hal yang paling mendasar tersebut bisa terselesaikan.


Ada banyak hal yang menjadikan wilayah tersebut akan selalu menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah kebersihannya. Alam yang indah pun akhirnya akan menjadi tidak menarik lagi jika pengelolaannya tidak baik, misalnya tentang kebersihannya.

 

 







 

 

Referensi:

-        (https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/07/21/5-pulau-terbaik-di-asia-bali-peringkat-berapa#:~:text=Sementara%20itu%2C%20Bali%20berhasil%20menempati,%2C%20Indonesia%3A%2092%2C51%20poin di akses tanggal 22 Oktober 2022) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *