Cerita dari hutan mangrove
ceritakitaprojectadmin | Posted on |
Menjelang jam 3 sore langit sudah mulai mendung sebagian tapi di sisi barat hanya segumpal awan yang berjalan perlahan. Dengan berboncengan motor dengan seorang kawan yang sepertinya sudah mulai menipis bannya. Itu terasa ketika melewati beberapa titik jalan utama yang menghubungkan pulau Karimunjawa dan pulau Kemujan mulai "agak" rusak karena aktivitas kendaraan berat. Menurut masyarakat setempat akibat dari lalu lalang truk tambak udang yang mulai banyak bisa ditemukan setiap wilayah maupun truk proyek pengerjaan bandara udara.
Keberadaan tambak udang di kepulauan Karimunjawa memang menimbulkan pro dan kontra, baik dari masyarakat setempat ataupun para pemilik hotel yang menggantungkan kedatangan wisatawan. Pandemi akibat Covid-19 sejak awal tahun 2020 memberikan dampak yag telak kepada banyak sektor, termasuk sektor wisata yang menjadi salah satu pendukung pergerakan ekonomi bagi masyarakat Karimunjawa.
Hampir sebagian besar masyarakat di kepulauan Karimunjawa hidup dari menjadi nelayan, namun tidak sedikit yang juga menggantungkan penghidupannya dari wisatawan yang berkunjung. Usaha penginapan, warung makan, persewaan kapal, persewaan motor dan mobil menjadi alternatif penggerak ekonomi.
Untuk menuju hutan mangrove hanya butuh waktu sekitar 10 menitan dari Ary's Lagoon hotel yang ada di sisi timur pulau Kemujan. Hutan mangrove bisa ditemukan di beberapa wilayah kepulauan Karimunjawa. Salah satu yang cukup luas ada di perbatasan antara pulau Karimunjawa dan pulau Kemujan. Satu wilayah rawa yang menjadi habitat tumbuhnya tanaman mangrove.Menurut cerita, hutan mangrove tersebut sebelum pandemi cukup ramai dengan kunjungan wisatawan, namun sekarang ini tidak banyak wisatawan yang berkunjung ke sana.
Ada beberapa faktor yang menjadi alasan, pertama karena bisa jadi karena kunjungan wisatawan ke Karimunjawa belum sepenuhnya normal kembali seperti sebelum pandemi. Alasan kedua mungkin karena tiket masuk yang cukup mahal bagi wisatawan luar negeri. Untuk wisatawan lokal tiket masuknya seharga Rp. 10.000 sedangkan untuk turis luar negeri bisa sepuluh kalinya. Sedangkan alasan yang ketiga bisa jadi karena cukup lama kawasan tersebut tidak didatangi wisatawan selama pandemi sehingga kondisinya agak kurang terawat, ada banyak ditemukan sampah, yang bisa jadi ditinggalkan oleh para wisatawan ataupun juga terbawa arus saat air pasang, namun apapun itu kesadaran untuk menjaga kebersihan masih menjadi keprihatinan bersama.

Leave a Reply